Pemerintahan dan Pembangunan

Rote Ndao Kembali Terapkan Work From Home dan Larangan Pesta

Bupati Rote Ndao Paulina Haning-Bullu memberikan keterangan kepada wartawan terkait Work From Home, pelarangan pesta, dan penegakan Instruksi Bupati Nomor 432 Tahun 2021 tentang Pembatasan Kegiatan Masyarakat Dalam Rangka Pengendalian Penyebaran Covid-19, di ruang kerjanya, Selasa (06/07/2021) siang. Foto: Dok.TS

Ba’a, teropongselatan.com—Menyusul lonjakan kasus positif Covid-19 dalam tiga hari terakhir yang mencapai total 46 orang terpapar, di mana sebagian merupakan ASN pada sejumlah OPD, maka Bupati Rote Ndao Paulina Haning-Bullu mengambil kebijakan Work From Home (WFH), serta melarang serta melarang acara pesta dalam bentuk apapun.

Hal tersebut disampaikan Bupati Paulina kepada sejumlah wartawan di ruang kerjanya, Selasa (06/07/2021) siang, terkait penegasan penegakan Instruksi Bupati Nomor 432 Tahun 2021 tentang Pembatasan Kegiatan Masyarakat Dalam Rangka Pengendalian Penyebaran Covid-19.

Menurutnya, mencermati lonjakan kasus positif Covid-19 sejak tanggal 3-5 Juli 2021, maka telah digelar rapat koordinasi (rakor) bersama Forkopimda dan Satgas Covid-19. Di mana dalam rakor tersebut disepakati sejumlah rekomendasi sebagai langkah penanangan lonjakan kasus positif Covid-19 di Rote Ndao, di antaranya:

1) Tidak memperbolehkan masyarakat menggelar pesta dalam bentuk apapaun. Pemberkatan perkawinan di Gereja atau Akad Nikah/Ijab-kabul di KUA atau rumah masing-masing yang sudah terjadwal sebelumnya, dapat dilaksanakan dengan ketentuan maksimal dihadiri 15 orang setelah melakukan pemeriksaan rapid antigen. Sementara yang belum terjadwal disarankan untuk menunda hingga situasi kembali kondusif.

Dikatakan Bupati Paulina, terkait rekomendasi pelaksanaan pengumpulan masa terbatas bagi kepentingan pesta, tu’u, dan atau syukuran yang sudah terlanjur dikeluarkan oleh Satgas Covid-19, namun pelaksanaannya setelah keluarnya Instruksi Bupati Nomor 432 pada 25 Juni, maka dinyatakan tidak berlaku.

“Tidak lagi ada izin untuk pengumpulan masa terbatas untuk tu’u, syukuran, dan pesta lagi. Semuanya tidak diperbolehkan, sampai kondisi benar-benar kondusif. Izin hanya untuk pemberkatan nikah di gereja dan akad nikah/ijab kabul di KUA,” tutupnya.

Satgas, kata Bupati Paulina, akan memperketat pengawasan dan menindak yang melakukan pelanggaran protokol kesehatan sesuai Instruksi Bupati Rote Ndao Nomor 432 Tahun 2021.

2) Kegiatan Ibadah: a. Gereja hanya akan memberkati pasangan perkawinan yang memiliki izin dan sudah melakukan pemeriksaan rapid antigen. b. Pemerintah desa/kelurahan yang zona merah, agar berkoordinasi dengan pihak gereja untuk melaksanakan kegiatan ibadah mingguan di rumah dan online.

3) Masyarakat diminta berpartisipasi aktif melaporkan kepada Satgas atau pemerintah kecamatan apabila: a. Terdapat pelaku perjalanan dari luar NTT. Pelaku perjalanan wajib melakukan tes antigen setelah tiba di Rote pada hari ketiga. b. terjadi kegiatan pengumpulan massa seperti pesta, syukuran, dan atau kegiatan sejenisnya yang mengakibatkan penumpukan massa. c. Diimbau agar masyarakat tidak menghadiri kegiatan yang mengumpulkan massa.
d. Para kepala desa/lurah dan apparat wajib melaporkan kegiatan pengumpulan massa seperti pesta saat sudah ada tanda-tanda kegiatan, membubarkan dan menindak tuan pesta yang nekad. e. Camat mengambil tindakan terhadap kades dan aparat terkait, juga pemilik rumah/pemilik sound system yang tidak serius menjalankan instruksi tersebut.

4) Work From Home (WFH) atau kerja dari rumah diberlakukan mulai hari ini (6 Juli) hingga 3 pekan ke depan, sehingga Kepala OPD harus menjadwalkan ASN yang wajib masuk kantor setiap hari. Sementara, ASN yang bekerja dari rumah, diwajibkan mengisi link kegiatan yang dilakukan (catatan kinerja) setiap hari melalui aplikasi yang telah diberikan.

5) Para pengusaha penyedia barang/jasa wajib melakukan pemeriksaan rapid antigen setiap bulan. Pengusaha/pekerja makanan-minuman melakukan rapid antigen minimal sebulan sekali. Penyedia jasa angkutan sembako Rote-Kupang, baik supir maupun kernek wajib melakukan vaksinasi, dan Pemkab akan memprioritaskan mereka.

6) Sebagai informasi bahwa kewajiban melaksanakan vaksinasi sudah diterapkan dalam sebagai syarat untuk melakukan perjalanan ke luar daerah.

7) Karantina terpusat di setiap kecamatan, akan dibuka kembali untuk mengantisipasi peningkatan jumlah kasus dan memberikan pelayanan kesehatan bagi pasien terkonfirmasi.

8) Bidang Penegakan Satgas Covid-19 wajib menegakan Instruksi Bupati Nomor 432/2021, mengambil Tindakan hukum terhadap mereka yang melanggar, dan menyampaikan laporan mingguan kepada Bupati.

29 Kasus di Kecamatan Lobalain

Terpisah, Ketua Sekretariat Satgas Covid-19 Kabupaten Rote Ndao Jonas M Selly menjelaskan, peta zonasi penyebaran Covid-19 di Kabupaten Rote Ndao hingga ke tingkat desa/kelurahan periode 14 Juni sampai dengan 7 Juli 2021, jumlah kasus positif sebanyak 46 orang yang tersebar di 5 kecamatan.

Ia merinci, Kecamatan Lobalain menempati urutan teratas dengan 29 kasus pada 11 desa/kelurahan, yakni Kelurahan Mokdale 12 orang, Kelurahan Namodale 2 orang, Kelurahan Metina 2 orang, Desa Ba’adale 3 orang, Desa Sanggaoen 3 orang, Desa Helebeik 2 orang, Desa Lekunik 1 orang, Desa Tuanatuk 1 orang, Desa Loleoen 1 orang, Desa Holoama 1 orang dan Desa Kolobolon 1 orang.

Selanjutnya, kata dia, Kecamatan Rote Barat Laut 7 kasus, yakni di Kelurahan Busalangga 6 orang dan Desa Tualima 1 orang. Kecamatan Rote Barat 4 kasus, yakni Desa Nemberala 2 orang, Desa Oenitas 1 orang, dan Desa Oenggaut 1 orang. Kecamatan Rote Barat Daya terdapat 5 kasus, yakni Desa Oebatu 1 orang, Desa Lentera 3 orang, dan Desa Batutua 1 orang. Sedangkan di Kecamatan Ndao Nuse, yakni di Desa Nuse 1 orang.

Menurutnya, tindakan medis yang dilakukan terhadap 46 orang tersebut, yakni telah dilakukan perawatan kesehatan dan isolasi terpusat, yakni 2 orang di RSUD Ba’a, 38 orang di Rusun Ne’e, dan 6 orang lainnya isolasi mandiri/terpusat di kecamatan masing-masing. (team/TS-02)